Cepat Tanggap Monitoring Tanam Pohon Pasca Geger Debit Air Sungai Badeng Meluap

PPM Paradigma – Hujan yang mengguyur Banyuwangi termasuk di kecamatan Songgon selama 3 hari berturut – turut begitu sangat deras. Hujan ini terjadi sejak Minggu dengan  puncak derasnya pada Selasa (02/11/21) siang hingga sore. Cukup derasnya hujan di daerah hulu, menyebabkan debit air Sungai Badeng Songgon meningkat tidak seperti biasanya. Sehingga di daerah hilir banyak ditemukan titik - titik longsoran akibat erosi tanah serta juga hanyutnya pohon konservasi yang ditanam di daerah bantaran dekat bibir sungai. Pohon konservasi yang hanyut tersebut merupakan bibit pohon dari program konservasi  bertajuk “Tanam 10.000 Pohon” PT Tirta Investama (AQUA Banyuwangi) bersama mitra kerjanya, PPM Paradigma dan BKAD Konservasi Kecamatan Songgon.

Perlu diketahui Kondisi daerah aliran sungai (DAS) kecamatan songgon saat ini sangat memprihatinkan, hal ini dibuktikan dengan semakin tingginya frekuensi luapan air dan tanah longsor saat musim penghujan. Salah satu penyebab nya selain dikarenakan erosi tanah juga disebabkan oleh meningkatnya volume limpasan air permukaan (run off). Limpasan air permukaan (run off) merupakan limpasan air hujan yang tidak dapat ditahan oleh tanah dan vegetasi di atas nya, sehingga akhirnya air langsung turun mengalir ke sungai ataupun laut.

Sejak rabu pasca banjir sampai kamis (04/11/21), tim PPM Paradigma bersama BKAD Konservasi 3 Desa (Sumberarum, Sumberbulu dan Sragi) melakukan monitoring terhadap kondisi sungai dan  pohon yang ditanam dari hulu sampai hilir. Dari hasil monitoring ini sebagian bantaran sungai tergerus oleh luapan air dan juga ada sekitar ratusan pohon hasil tanam yang hanyut, namun ribuan pohon lainnya masih bisa terselamatkan meskipun sudah diterjang derasnya laju air. Tergerusnya tanah bantaran sungai oleh erosi tanah ini, mengkibatkan berubahnya tata letak geografis dari sungai tersebut.

Melihat dari kejadian ini, satu dari banyak cara untuk menanggulangi bencana longsor dan banjir di daerah sungai badeng yaitu mengurangi volume limpasan air permukaan (Run Off) dari lebatnya air hujan. Limpasan air hujan yang menyebabkan derasnya aliran sungai tersebut akibat dari lahan yang sedikit vegetasinya, sehingga tanah tidak mampu lagi menginfiltrasikan air di permukaan karena tanah sudah dalam keadaan jenuh. 

Dalam hal mitigasi bencana, konservasi berbasis  mata air  harus lah lebih digiatkan dan digalakkan terus menerus. Karena dengan konservasi tersebut dapat melindungi lingkungan dan sungai dari bencana yang tak terduga datangnya. Upaya konservasi mata air tersebut bisa meliputi reboisasi di lahan daerah bantaran sungai yang gundul dan juga dilakukan pembuatan rorak untuk menampung air hujan agar tidak langsung menuju sungai.  Kedepannya masyarakat diharapkan sadar bahwa berkonservasi itu penting selain  untuk menyelamatkan lingkungan dari bencana,  juga penting untuk melindungi sumber mata air. Karena mata air tersebut merupakan sumber kehidupan dari seluruh makhluk hidup.

Tag :  

Popular Artikel
Semangat Partisipatif Masyarakat Membuat Rorak
Upaya konservasi di Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi sebagai kawasan recharge area, terus diga..
Tahun Kedua Budidaya Maggot Semakin Diminati Masyarakat
Memajukan ekonomi desa tidak lepas kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat. Senin (27/9/2021) Lemba..
AQUA Banyuwangi Tambah Fasilitasi Sarana Air Bersih untuk Ratusan Kepala Keluarga
PT. Tirta Investama Pabrik Banyuwangi terus menebar kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar melalui p..